BLITAR-JOMBANG, 20 JUNI 2026– Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ziarah ke makam dua tokoh besar bangsa, yakni Proklamator Republik Indonesia yang juga Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno (Bung Karno) di Blitar serta Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang, Sabtu (20/6).
Rangkaian ziarah tersebut menjadi bagian dari tradisi Polri dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026 mendatang. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh bangsa, ziarah ini juga menjadi momentum untuk meresonansikan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, toleransi, kemanusiaan, dan persatuan yang diwariskan para pendiri serta pemimpin bangsa.
Di Blitar, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit dan Gubernur Khofifah melaksanakan doa bersama, penghormatan, serta tabur bunga di pusara Bung Karno. Prosesi semakin khusyuk terutama ziarah ini juga bertepatan dengan peringatan Haul Bung Karno ke-56.
Gubernur Khofifah mengatakan melalui ziarah ini, menjadi kesempatan untuk mengingat kembali semangat perjuangan dan nasionalisme yang diwariskan Sang Proklamator.
“Setiap ziarah ke makam Bung Karno menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang para pendiri bangsa,” tegasnya.
“Semangat persatuan, gotong royong, dan cinta tanah air yang diwariskan Bung Karno harus terus kita jaga dan aktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Menurut Khofifah, nilai-nilai yang diwariskan Bung Karno tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa saat ini, mulai dari penguatan persatuan nasional, pembangunan sumber daya manusia, hingga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Oleh sebab itu, ia mengajak generasi muda untuk meneladani kepemimpinan dan semangat kebangsaan Bung Karno sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.
“Saat Indonesia Emas 2045, para pemuda akan menjadi pemimpin pada berbagai sektor strategis. Kami berharap mereka memegang teguh nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang selalu diteladankan Bung Karno,” katanya.
Selain ziarah ke Makam Bung Karno, Kapolri bersama Gubernur Khofifah dan rombongan juga ziarah ke Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di lokasi tersebut, rombongan berziarah ke makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) serta makam Pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Turut hadir bersama rombongan, Menteri Haji dan Umrah RI KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, jajaran Pejabat Utama Mabes Polri, Kapolda Jawa Timur, serta Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang memimpin doa selama prosesi ziarah.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa ziarah ke makam Gus Dur dan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari menjadi momentum untuk meneladani nilai-nilai toleransi, pluralisme, kebangsaan, dan kemanusiaan yang diwariskan kedua tokoh tersebut.
“Semasa hidupnya, Gus Dur selalu mengajarkan pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Melalui ziarah ini, kita diajak untuk kembali memaknai pentingnya kebersamaan dan persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Menurut Khofifah, Gus Dur tidak hanya dikenang sebagai tokoh pluralisme, tetapi juga sebagai pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan hak-hak seluruh warga negara tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras maupun golongan.
“Siapa pun mengetahui betapa gigihnya perjuangan Gus Dur dalam merawat keberagaman dan menghargai perbedaan. Namun sesungguhnya Gus Dur lebih senang disebut sebagai Bapak Kemanusiaan,” katanya.
Khofifah menambahkan, pandangan tersebut tercermin pada kalimat yang tertulis di batu nisan Gus Dur, yakni “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”, yang menjadi pengingat akan warisan besar nilai kemanusiaan bagi bangsa Indonesia.
Di sisi lain, Gubernur Khofifah menyebut semangat yang diwariskan para tokoh bangsa juga sejalan dengan tema Hari Bhayangkara ke-80 tahun 2026, yakni “Polri untuk Masyarakat”.
Menurutnya, tema tersebut mencerminkan komitmen Polri untuk terus hadir memberikan pelayanan terbaik, menjaga keamanan dan ketertiban, serta mengayomi masyarakat dengan pendekatan yang humanis.
“Dirgahayu Hari Bhayangkara ke-80. Semoga Polri semakin dekat dengan masyarakat, terus mengedepankan pendekatan yang humanis, serta senantiasa melindungi dan mengayomi masyarakat dengan hati nurani,” pungkasnya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa rangkaian ziarah ke makam para tokoh bangsa merupakan bagian dari tradisi Polri menjelang Hari Bhayangkara ke-80.
Menurutnya, ziarah tersebut menjadi sarana untuk menyerap dan menggali nilai-nilai perjuangan serta kepemimpinan para pendiri bangsa sebagai spirit dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Rangkaian ziarah ini merupakan bagian dari tradisi Polri menjelang Hari Bhayangkara ke-80. Kami ingin menyerap dan menggali nilai-nilai yang diwariskan para pemimpin bangsa sebagai spirit bagi institusi Polri dalam menjalankan amanah masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Kapolri menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Bung Karno, Gus Dur, dan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari harus terus dijaga dan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa.
Bagi Polri, lanjutnya, nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan moral untuk terus mengawal stabilitas nasional, mendukung pembangunan, serta mewujudkan cita-cita Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045.
“Nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri bangsa harus terus kita jaga dan pertahankan. Bagi Polri, nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan untuk terus mengawal stabilitas, pembangunan nasional, serta mewujudkan cita-cita Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.










